Tidak lama setelah memeriksa keadaan, Lynx kembali ke bangunan tersebut. Wanita itu dilihatnya tetap duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar, dan matanya terus-menerus bergerak, memindai setiap sudut gelap. Lynx kemudian duduk tidak jauh darinya, tahu bahwa ia harus segera bertindak.

"Aku butuh bantuanmu," kata Lynx dengan suara tenang, mencoba mengurangi ketakutannya. "Kau tahu di mana tempat aman di sekitar sini? Setidaknya tempat di mana kita bisa bersembunyi?"

Wanita itu menggeleng perlahan, air mata masih mengalir di pipinya. "Aku tidak tahu… Aku baru ditangkap pagi ini. Mereka menyerang tempat kami saat fajar. Aku tidak kenal tempat ini."

Lynx mendesah pelan, memandang ke pintu yang kini tertutup rapat. Ia tahu tidak ada gunanya memaksa wanita ini memberikan jawaban yang tidak dia miliki. Tapi situasinya sulit. Ia tidak bisa membawanya keluar dengan melompat pagar; itu terlalu mencolok, terutama dengan penjagaan yang sangat ketat di setiap sudut.

"Kita harus pindah ke tempat lain," katanya akhirnya. "Ruangan ini terlalu berisiko."

Wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan. "Mereka… mereka akan menangkap kita lagi, bukan?" suaranya nyaris tidak terdengar.

"Tidak akan," jawab Lynx dengan mantap. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi aku butuh kamu tetap tenang, dan ikuti instruksiku."

Wanita itu tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan. Lynx berdiri, membuka pintu sedikit untuk mengintip ke luar. Setelah memastikan jalanan cukup sepi, ia memberi isyarat kepada wanita itu untuk mengikutinya.

Lynx membawa wanita itu ke salah satu bangunan kecil lainnya yang tampak seperti gudang. Bangunan itu dia temukan saat melihat situasi setelah menyelamatkan wanita itu. Mereka merayap dengan perlahan, menghindari penjaga yang berjalan mondar-mandir. Lynx, dengan kelincahan luar biasanya, memastikan langkah mereka tidak menimbulkan suara.

Begitu mereka masuk ke dalam gudang, Lynx segera menutup pintu dan mendudukkan wanita itu di salah satu sudut yang tersembunyi. Ia kemudian berdiri di dekat pintu, mendengarkan setiap suara dari luar.

Wanita itu masih gemetar, tangannya mencengkeram erat kain bajunya. Lynx menoleh, melihat ketakutannya, dan tahu ia harus melakukan sesuatu.

"Tenanglah," katanya sambil mendekati wanita itu. "Kau aman bersamaku."

Namun, wanita itu tidak menjawab, hanya duduk dengan tubuh gemetar. Lynx akhirnya duduk di sampingnya dan memeluknya dengan lembut, mencoba memberikan rasa aman.

"Aku tahu ini sulit," bisiknya. "Tapi kau harus percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi."

Wanita itu perlahan-lahan mulai meredakan tangisnya, meskipun tubuhnya masih gemetar. Lynx, yang kini lebih dekat dengannya, memperhatikan wajahnya yang pucat. Meski dalam keadaan kacau, wanita itu memiliki kecantikan alami yang mengingatkannya pada seseorang.

Lynx menatap wanita itu lebih lama dari yang ia sadari, dan tiba-tiba bayangan Leena muncul dalam benaknya. Mata yang penuh emosi, senyuman yang menenangkan, dan suara lembut Leena terasa begitu nyata di pikirannya. Ia mendapati dirinya merindukan Leena, merindukan kehadirannya yang selalu memberikan kenyamanan bahkan di situasi sulit seperti ini.

Ia tersadar dari lamunannya ketika wanita itu bergerak sedikit. Lynx segera melepaskan pelukan itu, merasa canggung atas pikirannya sendiri.

"Maaf," katanya, meskipun ia tidak tahu kenapa ia merasa perlu meminta maaf.

Wanita itu hanya mengangguk pelan, tidak mengatakan apa-apa.

Malam berlalu dengan perlahan. Lynx tidak tidur, tetap berjaga sepanjang malam untuk memastikan tidak ada yang mendekat. Ketika fajar mulai menyingsing, suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar.

Seorang penjaga menemukan pria yang sebelumnya dipukul Lynx, lalu dia berteriak marah. Lynx mendengar suara teriakan memerintahkan penjaga untuk mencari ke seluruh penjuru kampung.

"Ada penyusup!" seru salah satu penjaga. "Dan dia membawa tawanan!"

Lynx segera bangkit, menoleh ke wanita itu. "Kita harus pergi sekarang."

Wanita itu menatapnya dengan ketakutan, tapi akhirnya mengangguk, berdiri meski tubuhnya masih gemetar.

Lynx mengintip keluar, melihat para penjaga mulai menyisir area. Ia tahu waktunya hampir habis, dan satu langkah salah bisa membuat mereka ketahuan. Dengan tenang, ia mulai merencanakan langkah selanjutnya.

Wanita itu masih duduk di sudut, memeluk lututnya erat-erat. Lynx berdiri di dekat pintu, telinganya waspada terhadap setiap suara dari luar. Gudang kecil itu gelap, hanya diterangi sedikit oleh cahaya bulan yang menembus celah-celah kayu di dinding.

"Apa rencanamu sekarang?" suara wanita itu memecah keheningan.

Lynx menoleh, matanya tajam. "Kita harus pindah. Gudang ini terlalu mudah ditemukan kalau mereka mulai mencari ke seluruh tempat."

Wanita itu menunduk, suaranya hampir berbisik menahan rasa takutnya. "Kemana? Kau tahu mereka pasti akan menemukan kita. Aku tidak ingin tertangkap lagi."

"Tidak jika kita bisa menghindarinya," jawab Lynx dengan tenang. Ia menatap wanita itu, mencoba membaca ekspresinya. "Aku butuh kamu tetap tenang dan ikuti instruksiku. Aku tahu kau takut, tapi aku tidak akan membiarkan mereka menangkapmu lagi."

Wanita itu mendesah, menggigit bibirnya dengan ragu. "Aku hanya menjadi bebanmu? Kalau karena aku, kita berdua bisa tertangkap?"

Lynx berlutut di hadapannya, tatapannya lembut. Lynx merasa kagum dengan wanita ini. Meski wanita ini terlihat sangat ketakutan tetapi dia masih khawatir dan memikirkan keselamatan dirinya. Lynx berkata pelan  tapi penuh keyakinan. "Aku tidak pernah meninggalkan siapa pun. Kau tidak akan jadi beban, percayalah. Tapi aku butuh kau percaya padaku."

Wanita itu memandangnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan mencoba."

Lynx berdiri dan mengintip keluar dari celah pintu. Ia mengamati para penjaga yang berkeliaran dengan obor di tangan mereka.

"Mereka mabuk-mabukan tadi malam," kata wanita itu tiba-tiba. "Mungkin sebagian dari mereka masih setengah sadar."

Lynx mengangguk. "Itu bisa membantu. Tapi kita tetap harus berhati-hati."

Lynx membuka pintu dengan hati-hati, hanya cukup untuk memeriksa jalanan. "Ikuti aku. Jangan bersuara."

Wanita itu berdiri, tubuhnya masih gemetar. Saat mereka keluar, Lynx memegang lengannya sebentar. "Ingat, tetap dekat denganku. Kalau ada apa-apa, aku yang akan menghadapinya. Kita harus segera mencari tempat aman sebelum matahari pagi menyinari tempat ini. Kita masih punya waktu. "

Mereka merayap keluar, bergerak dari bayangan ke bayangan. Penjaga dengan obor masih mondar-mandir, tapi Lynx, dengan kelincahan dan kecepatan luar biasanya, selalu menemukan celah untuk bergerak.

Ketika mereka sampai di sisi bangunan yang lebih gelap, wanita itu berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. "Kau tahu... Aku tidak pernah menyangka ada yang berani masuk ke tempat ini sendirian. Apa yang sebenarnya kau lakukan di sini?"

Lynx menatapnya sejenak. "Aku mencari orang-orang yang mereka tangkap. Aku di sini untuk menyelamatkan mereka."

Wanita itu tampak terkejut. "Sendirian? Kau pasti gila."

Lynx hanya tersenyum tipis. "Bukan kali pertama aku dengar itu."

Wanita itu menggeleng, seolah tidak percaya. "Aku tidak tahu siapa kau, tapi... Kau berbeda dari orang lain. Semua orang hanya peduli pada diri mereka sendiri. Tapi kau... Kau bahkan tidak mengenalku."

"Tidak perlu mengenal seseorang untuk tahu apa yang benar," jawab Lynx dengan tegas.

Mereka sampai di sisi bangunan lain ketika tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat. Lynx segera menarik wanita itu ke belakang tumpukan kayu yang berserakan, menutupi mulutnya dengan lembut agar dia tidak mengeluarkan suara.

"Jangan bergerak," bisiknya, nyaris tak terdengar.

Dua penjaga berjalan melewati mereka, berbicara dengan suara keras.

"Kau dengar? Ada penyusup di tempat ini," kata salah satu penjaga.

"Bagaimana bisa? Siapa yang cukup bodoh untuk mencoba itu?" balas yang lain.

"Entahlah. Tapi siapa pun dia, pasti tidak akan bertahan lama. Kita geledah semua tempat di sini. Kita akan segera menemukannya."

Langkah mereka akhirnya menjauh, dan Lynx melepaskan tangan dari mulut wanita itu.

"Kau... Kau mendengar itu? Mereka mencari kita di semua tempat" bisik wanita itu, suaranya gemetar.

Lynx mengangguk. "Kita harus lebih berhati-hati."

Mereka terus bergerak, mencari tempat baru untuk bersembunyi. Lynx mengerahkan seluruh indranya untuk memperhatikan keadaan sekitar, memperhatikan setiap pergerakan penjaga. Dia memimpin jalan, matanya terus mengawasi setiap sudut.



